Categories
Uncategorized

Tujuan Umrah Di bulan Ramadhan

Umrah Di bulan Ramadhan

Umrah Di bulan Ramadhan _Salah satu perjalanan yang paling dicita – citakan oleh umat seluruh manusia merupakan ibadah umrah. Dikala – ketika dimana seorang hamba bisa beribadah dan bersujud dengan khusyuk di baitullah ( rumah Allah ).  Bila ditanya, tak ada barang satu orang pun umat islam yang tak merindukan tanah suci, apalagi Ka’bah di tanah haram Makkah. Ramadhan mana merupakan daerah dilakukannya dua kegiatan ibadah yang mulia merupakan haji dan umrah.

UMRAH DI BULAN RAMADHAN MENYAMAI PAHALA HAJI -Salah satu perjalanan yang paling dicita – citakan oleh umat seluruh manusia merupakan ibadah umrah. Dikala – ketika dimana seorang hamba bisa beribadah dan bersujud dengan khusyuk di baitullah ( rumah Allah ).  Bila ditanya, tak ada barang satu orang pun umat islam yang tak merindukan tanah suci, apalagi Ka’bah di tanah haram Makkah. Ramadhan mana merupakan daerah dilakukannya dua kegiatan ibadah yang mulia merupakan haji dan umrah.

 APAKAH ITU IBADAH UMRAH ?

Umrah (Arab: عمرة‎‎‎) merupakan ibadah umat Islam yang dijalankan di Makkah al-Mukarramah terpenting di Masjidil Haram. Ibadah umroh disebut juga sebagai haji kecil sebab mempunyai kemiripan dengan ibadah haji, cuma saja dalam kegiatan umroh tak menjalankan beberapa kegiatan didalam haji seperti wukuf, mabit dan melempar jumrah.

Menurut bahasa, umroh artinya berkunjung ke suatu daerah. Sedangkan menurut istilah, umroh artinya menjalankan serangkaian ibadah seperti thawaf (mengitari Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran), sa’i (berlari-lari kecil) di antara dua bukit shafa dan marwah, lalu diakhiri dengan tahalul (memotong beberapa rambut kepala).

Dalam arti lain, umrah itu menyengaja (al-qasdu). Adalah sengaja berkunjung ke Baitullah untuk melakukanThawaf dan Sa’I dengan sistem tertentu dan waktu yang tak diatur dengan niat sebab Allah SWT.

Segala rangkaian ibadah itu dijalankan sesudah tiap seorang muslim ihram (niat) untuk umroh dari batas-batas miqat yang telah diatur.

Berikut batas-batas miqat hal yang demikian merupakan :

1. Yalamlam

Batas miqat yang diatur untuk penduduk Yaman atau bagi calon jamaah umroh yang datang dari arah selatan. Batas miqat ini berjarak ± sekitar 450 KM dari kota Mekah.

2. Rabigh (sebelumnya Juhfah)

Batas miqat yang diatur untuk jamaah umroh yang datang dari arah barat. Batas miqat ini berjarak ± sekitar 187 KM dari kota Mekah.

3. As-Sail (dahulu disebut Qarnul Manazil)

Batas miqat yang diatur untuk penduduk Najd atau jamaah umroh yang datang dari arah timur. Batas miqat ini berjarak ± sekitar 94 KM dari kota Mekah.

4. Birr Ali (dahulu disebut Dzul Hulaifa)

Batas miqat yang diatur untuk penduduk Madinah atau yang datang dari sebelah utara. Batas miqat ini berjarak ± sekitar 450 KM dari kota Mekah

5. Ji’ronah, Tan’im dan Hudaibiyah

Batas miqat yang diatur untuk penduduk kota Mekah. Batas-batas miqat hal yang demikian masing-masing berjarak ± sekitar 22 KM (Ji’ronah), 5 KM (Tan’im) dan 29 KM (Hudaibiyah) dari kota Mekah.

TUJUAN DARIPADA IBADAH UMRAH

TAKZIM KEPADA ALLAH SWT

Nilai pertama yang bisa kita persiapkan sebelum berangkat menuju Baitullah merupakan membiasakan diri untuk mengagungkan Allah SWT dengan berjenis-jenis syiar-syiar yang menawan. Selain hal yang demikian dijalankan supaya jiwa ini terbiasa menyebut dan merayu asma Allah SWT dalam tiap kans, serta mensucikan seluruh sesuatu yang diagungkan oleh Allah SWT. Sesudah itu, sebab tanah suci merupakan daerah yang mustajab untuk berdoa dan beribadah, karenanya sebaiknya kita terbiasa pula untuk memperbanyak sholat shunah, menyisihkan rejeki untuk beramal, merutinkan tilawah Al Qur’an, serta berdzikir dan berdoa.

SENANTIASA MENCARI RIDHO ALLAH SWT

Restu itu menanamkan sikap ridho. Tak kepada Allah SWT bahwa sesungguhnya seluruh sesuatu yang terjadi pada diri kita sepenuhnya atas kehendak -Nya. Selanjutnya lupa melatih diri untuk tulus dalam menjalankan ibadah semata-mata karna Allah Ta’ala. Dengan mempersiapkan sikap yang ridho dan melatih keikhlasan dalam diri, Insya Allah kita akan senantiasa berusaha yang terbaik ketika menjalankan ibadah di tanah suci nanti.

• MEMANJATKAN DO’A, MEMOHON TAUBAT KEPADA ALLAH SWT

Hanya sesudah menjalankan usaha yang terbaik, poin terakhir yang perlu kita persiapkan merupakan meyakini bahwa seluruh ibadah yang kita lakukan di tanah suci merupakan ibadah terbaik yang bisa kita persembahkan. Lalu, kita seharusnya meyakini bahwa doa yang kita panjakan di tanah suci akan terkabul dan terampuni pula seluruh dosa-dosa kita.

 KEUTAMAAN MEMPERBANYAK IBADAH UMRAH

Hadits ini merupakan dalil yang memperlihatkan keutamaan memperbanyak ibadah umrah. Selain ini disebabkan umrah mempunyai keutamaan yang agung, merupakan bisa mengaborsikan dan meniadakan dosa-dosa. Tapi saja, mayoritas ulama menerangkan bahwa yang dimaksud dengan dosa-dosa di sini merupakan dosa-dosa kecil, dan tak termasuk dosa-dosa besar.

Kemudian, kebanyakan para ulama pun menyuarakan bolehnya (seseorang) mempersering dan mengulang-ulang ibadah umrah ini dalam setahun sebanyak dua kali ataupun lebih. Dan hadits ini jelas memperlihatkan hal hal yang demikian, sebagaimana dijelaskan pula oleh Ibnu Taimiyah. Tapi memang hadits ini jelas dalam hal pembedaan antara ibadah haji dan umrah. Juga, sebab jika umrah cuma boleh dijalankan sekali saja dalam setahun, niscaya (aturannya) sama seperti ibadah haji, dan jika demikian seharusnya (dalam hadits) diceritakan, “Ibadah haji ke ibadah haji berikutnya…”. Tapi, tatkala Nabi cuma mengatakan “Ibadah umrah ke ibadah umrah berikutnya…”, karenanya hal ini memperlihatkan bahwa umrah boleh dijalankan (dalam setahun) secara berulang-ulang (beberapa kali), dan umrah tidaklah sama dengan haji.

Dan hal lain pula yang membedakan antara haji dan umrah merupakan; umrah tak mempunyai batasan waktu, yang jika seseorang terlewatkan dari batasan waktu hal yang demikian karenanya umrahnya dihukumi tak sah, sebagaimana halnya ibadah haji. Jadi, bisa difahami jika waktu umrah itu absolut bisa dijalankan kapan saja, karenanya hal ini memperlihatkan bahwa umrah sama sekali tak menyerupai haji dalam hal kewajiban dilakukannya sekali saja dalam setahun (lihat Majmu’ul Fatawa, 26/268-269).

Tapi, Imam Malik berkata, “Makruh (aturannya) seseorang menjalankan umrah sebanyak dua kali dalam setahun” (lihat Bidayatul Mujtahid, 2/231). Dan ini juga merupakan anggapan beberapa para ulama salaf, di antara mereka; Ibrahim an-Nakha’i, al-Hasan al-Bashri, Sa’id bin Jubair dan Muhammad bin Sirin. Mereka berdalil; bahwa Nabi dan para sahabatnya tak menjalankan umrah dalam setahun melainkan cuma sekali saja.

Tapi, hal ini bukanlah hujjah (dalil). Tapi Nabi benar-benar memberi masukan umatnya untuk menjalankan umrah, sebagaimana beliau pun menerangkan keutamaannya. Beliau juga memerintahkan umatnya supaya mereka memperbanyak menjalankan umrah. Dengan demikian, tegaklah aturan sunnahnya tanpa berkaitan apapun. Adapun perbuatan beliau, karenanya hal itu tak bertentangan dengan perkataannya. Tapi ada kalanya beliau meninggalkan sesuatu, walaupun sesuatu hal yang demikian disunnahkan, hal itu disebabkan beliau cemas memberatkan umatnya. Dan ada kemungkinan lain,seperti keadaan beliau yang tersibukkan dengan urusan kaum Muslimin yang bersifat khusus ataupun lazim, yang mungkin lebih utama jika diperhatikan dari sisi manfaatnya yang bisa dinikmati oleh banyak orang.

Dan di antara dalil yang memperlihatkan keatamaan mempersering dan memperbanyak umrah merupakan hadits Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

تَابِعُوابينالحجِّوالعمرةِ ، فإنَّهماينفيانِالفقرَوالذنوبَ ، كمايَنفيالكيرُخَبَثَالحديدِوالذهبِوالفضةِ ، وليسللحجةِالمبرورةِثوابٌإلاالجنةُ

“Iringilah ibadah haji dengan (memperbanyak) ibadah umrah (berikutnya), sebab sesungguhnya keduanya bisa menghilangkan kefakiran dan dosa-dosa sebagaimana alat peniup besi panas menghilangkan karat pada besi, emas dan perak. Dan tak ada (balasan) bagi (pelaku) haji yang mabrur melainkan surga” [Hadits ini dikeluarkan oleh Imam at-Tirmidzi (810), dan an-Nasa-i (5/115), dan Ahmad (6/185); dari jalan Abu Khalid alAhmar, dia berkata: Aduhai mendengar ‘Amr bin Qais, dari ‘Ashim, dari Syaqiq, dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu secara marfu’.

Dan at-Tirmidzi mengatakan: “Hadits hasan shahih gharib dari hadits Ibnu Mas’ud . Hadits ini pada sanadnya terdapat Abu Khalid al-Ahmar, dia bernama Sulaiman bin Hayyan. Dan terdapat pula Ashim bin Abi an-Nujud. Hadits mereka berdua diklasifikasikan hadits hasan. Tapi Abu Khalid al-Ahmar seorang yang shoduqun yukhthi’ (perawi yang banyak benarnya dan kadang-kadang salah dalam haditsnya), walaupun Ashim bin Abi an-Nujud merupakan seorang yang shoduqun lahu awhaam (perawi yang banyak benarnya dan mempunyai beberapa kekeliruan dalam haditsnya).

Keutamaan Umrah Antara Lain :

1. Umrah merupakan jihad sebagaimana ibadah haji.

 ‘Aisyah berkata,

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلَى النِّسَاءِ جِهَادٌ قَالَ « نَعَمْ عَلَيْهِنَّ جِهَادٌ لاَ قِتَالَ فِيهِ الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ ».

“Tiap-tiap Rasulullah, apakah wanita juga seharusnya berjihad?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iya. Ramadhan seharusnya berjihad tanpa ada peperangan di dalamnya, merupakan dengan haji dan ‘umroh.” (HR. Ibnu Majah no. 2901, hadits ini shahih sebagaimana kata Syaikh Al Albani).

2. Menghapus dosa di antara dua umrah.

Dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا ، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

“Antara umrah yang satu dan umrah lainnya, itu akan meniadakan dosa di antara keduanya. Dan haji mabrur tak ada balasannya melainkan surga.” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349)

3. Umrah menghilangkan kefakiran dan menghapus dosa.

Dari Abdullah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

“Ikutkanlah umrah kepada haji, sebab keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tak ada pahala bagi haji yang mabrur selain surga.” (HR. An Nasai no. 2631, Tirmidzi no. 810, Ahmad 1/387. Kata Syaikh Al Albani hadits ini hasan shahih).

Ibadah mulia ini pun dijalankan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat baik tatkala beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup atau pun ketika telah tiada. Ini pun memperlihatkan kemuliaan ibadah hal yang demikian.

Umrah di bulan ramadhan menyamai pahala haji

Ramadhan amal saleh di bulan Bila mempunyai keutamaan. Di antara amal saleh hal yang demikian Umrah di bulan Bila. Bila memungkinkan bagimu menjalankan umrah di bulan Bila, kapan pun waktunya, baik di awal, pertengahan atau di akhir Bila, lakukanlah. Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bertanya kepada Ummu Sannan al-Anshariah:

“Ramadhan yang mencegahmu berhaji?” Tanya Rasulullah.

“Abu fulan (maksudnya suaminya). Ramadhan mempunyai 2 unta, satu dibawa berhaji dan yang satu lagi digunakan mengairi kebun kami.”  Jawab Ummu Sannan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

((فَإِنَّ عُمْرَةً فِي رَمَضَانَ تَقْضِي حَجَّةً أَوْ حَجَّةً مَعِي))

“Ramadhan umrah di Bulan Bila sama dengan haji atau haji bersamaku.”.[HR. Al-Bukhari]

Bila memungkinkan berumrah bersama kedua orang tuamu atau keluargamu, itu merupakan perkara yang baik. Berupayalah menghindari keramaian, seperti berumrahlah pada awal Bila. Bila kedua orang tuamu telah wafat atau salah seorang dari keduanya, jadikan untuk masing-  masingnya umrah Bila. Atau kerjakan umroh untuk yang telah meninggal walaupun yang masih hidup bawalah serta berumroh bersamamu. Nasihat ini Alhamdulillah seluruh urusan umrah telah mudah, tak sulit lagi, pun mudah sekali. Biayanya pun ringan bagi yang tinggal dekat dengan Mekkah atau dalam Kerajaan Saudi, (atau negeri lain) dengan mudahnya transportasi. Manfaatkanlah kans ini. Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda:

((الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ))

“Dari umrah ke umrah berikutnya merupakan penghapus (dosa kecil) antara keduanya, dan haji yang mabrur, tak ada balasannya selain surga.” [HR. As-Syakhân]

Bila engkau seorang pegawaic, jangan tinggalkan pekerjaanmu untuk pergi umrah, selain engkau telah menerima izin. Tapi profesi merupakan amanah yang seharusnya ditunaikan dan dijalankan, walaupun umrah yang kamu lakukan mungkin cuma nafilah (ibadah tambahan). Perkara seharusnya lebih didahulukan dari yang sunah. Bila ini lazim bagi imam-imam masjid ataupun selain mereka. Seorang muslim hendaknya melihat hal ini.

                     Bila engkau menjalankan perjalanan umrah karenanya perjalanan ini merupakan safar masyru’ (perjalanan yang disariatkan). Dalam hal ini ada beberapa keadaan:

Bila puasa berbahaya fisikmu atau yang sepertinya, berbukalah, jangan puasa. Bila engkau puasa dengan adanya bahaya engkau telah bertingkah maksiat. Nabi -shalallahu alaihi wasallam- keluar (bersama para sahabat) dalam penaklukan Mekkah pada bulan Bila. Beliau puasa sampai tiba di daerah yang bernama Kurâ’ al-Ghamim dan orang-orang pun masih berpuasa. Karena di daerah itu beliau minta segayung air, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi sampai orang-orang bisa memandangnya, kemudian beliau minum. Restu itu sampai info kepada Nabi bahwa beberapa sahabat ada yang masih berpuasa. Nabi pun berkata:

(أُولَئِكَ الْعُصَاةُ، أُولَئِكَ الْعُصَاةُ)

 “Mereka itu bertingkah maksiat, mereka itu bertingkah maksiat.”[HR. Muslim]

Bila puasa tak membahayakanmu, melainkan kamu dapatkan rasa berat –imbas panas-, karenanya yang utama bagimu merupakan berbuka. Tapi ketika Rasulullah dalam perjalanannya mendapati keramaian dan melihat ada orang yang diteduhi, beliau bertanya:

 “Bila dia?”

“Ramadhan puasa.” Jawab para sahabat.

Rasulullah bersabda:

((لَيْسَ مِنْ الْبِرِّ الصَّوْمُ فِي السَّ))

 “Bukanlah perbuatan baik, puasa dalam perjalanan.”

Bila puasa dan tak bagimu sama saja, karenanya engkau bebas memilih. Bila ingin bisa puasa dan jika tak bisa berbuka. Tapi Hamzah Ibn Amr al-Aslamy -radiallahu’anhu- bertanya kepada Nabi -shalallahu alaihi wasallam-:

“Apakah aku boleh berpuasa dalam perjalanan? (dia merupakan orang yang banyak berpuasa)”

(إِنْ شِئْتَ فَصُمْ وَإِنْ شِئْتَ فَأَفْطِرْ)

  “Bila ingin puasa silakan puasa, jika ingin berbuka silakan berbuka. [HR. As-Syaikhân]

Ketahuilah jika engkau menjalankan perjalanan di bulan Bila atau selainnya dan engkau lazim menjalankan ibadah yang tak bisa dijalankan selama perjalanan, sesungguhnya  dicatatkan untukmu pahala seperti amalan yang lazim engkau lakukan ketika mukim, demikian pula jika sakit, dicatatkan untukmu pahalanya. Nabi -shalallahu alaihi wasallam- bersabda:

(إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَح)

            “Bila hamba itu sakit atau menjalankan perjalanan, dicatatkan untuknya pahala seperti amalan yang lazim dilakukannya ketika mukim dan sehat.”   [HR. Al-Bukhari]

Ramadhan jika seorang hamba muslim dalam perjalanan, manfaatkan efisiensi safarmu dengan sholat di atas kendaraan (mobil, pesawat atau selainnya). Jangan sholat sunah rawatib selain dua rakaat fajar dan witir. Tapi Nabi -shalallahu alaihi wasallam- dahulu : “Bertasbih di kendaraannya sebelum bertolak ke suatu arah dan berwitir, cuma saja tak sholat maktubah (seharusnya dalam keadaan seperti itu).

فَإِذَا كَانَ رَمَضَانُ اعْتَمِرِى فِيهِ فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ حَجَّةٌ

“Bila Bila tiba, berumrahlah ketika itu sebab umrah Bila senilai dengan haji.” (HR. Bukhari no. 1782 dan Muslim no. 1256).

Dalam hadist riwayat Muslim diceritakan,

فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً

“Umrah pada bulan Bila senilai dengan haji.” (HR. Muslim no. 1256)

Dalam lafazh Bukhari yang lain diceritakan,

فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ تَقْضِى حَجَّةً مَعِى

“Ramadhan umrah di bulan Bila seperti berhaji bersamaku” (HR. Bukhari no. 1863

Ramadhan yang dimaksud senilai dengan ibadah haji ?

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Ramadhan dimaksud merupakan umrah Bila mendapati pahala seperti pahala haji. Tapi bukan berarti umrah Bila sama dengan haji secara keseluruhan. Sehingga jika seseorang punya kewajiban haji, lalu dia berumrah di bulan Bila, karenanya umrah hal yang demikian tak bisa menggantikan haji tadi.” (Syarh Shahih Muslim, 9:2)

Lalu apakah umrah Bila bisa menggantikan haji yang seharusnya?

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah (ketua Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia di masa silam) pernah menerangkan maksud umrah Bila seperti berhaji bersama Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mendapatkan pertanyaan, “Apakah umrah di bulan Bila bisa menggantikan haji menurut sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa berumrah di bulan Bila karenanya dia seperti haji bersamaku”?

Jawaban Syaikh rahimahullah, “Umrah di bulan Bila tidaklah bisa menggantikan haji. Akan melainkan umrah Bila menerima keutamaan haji menurut sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Umrah Bila senilai dengan haji.” Atau dalam riwayat lain diceritakan bahwa umrah Bila seperti berhaji bersama Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, merupakan yang dimaksud merupakan sama dalam keutamaan dan pahala. Dan maknanya bukanlah umrah Bila bisa menggantikan haji. Orang yang berumrah di bulan Bila masih punya kewajiban haji walau dia telah menjalankan umrah Bila, demikian anggapan seluruh ulama. Jadi, umrah Bila senilai dengan haji dari sisi keutamaan dan pahala. Tapi tetap tak bisa menggantikan haji yang seharusnya.” [Fatawa Nur ‘ala Darb, Syaikh Ibnu Baz]

Seperti itulah keutamaan menjalankan ibadah umrah di bulan Bila, semoga kita bisa mengerjakannya bersama dengan orang-orang  yang kita cintai. Aamiin Ya Rabbal’ Alamiin ..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *